Lynx menatap pasukan di depannya yang kini mulai mundur dengan gerakan gugup. Ia melangkah maju, perlahan namun pasti, seperti bayangan yang tak terhindarkan.

Para pasukan saling bertatapan. Mereka tidak menduga metahuman yang  menjadi target sasaran mereka ternyata memiliki kekuatan yang lebih besar dari perangkat yang sudah mereka persiapkan.

Lynx merasa yakin, Kanaya masih berada di tempat ini karena dia mendengar suara percakapan mereka, selain itu Kael sudah menceritakan mengenai kekuatan Kanaya sebagai metahuman yang dapat menghilang dan menyembunyikan diri dengan baik, bahkan perangkat teknologi super canggih kesulitan mendeteksinya. Lynx segera memusatkan perhatian mencari jejak Kanaya. Dia mengabaikan orang-orang yang menyerangnya.

Sementara itu, Leena hanya memperhatikan, karena kali ini dia ingin melihat bagaimana cara Lynx mengatasi para Metahuman tersebut.

Ockron, Sandrage, Kilat, dan Ratih tidak tinggal diam, mereka menyerang Lynx dengan kekuatan mereka masing-masing, berharap bisa menghentikan pria itu.

"Team, kita serang dia dengan formasi gabungan. Kita harus tunjukkan kemampuan terbaik kita dihadapan komandan Vex." Ratih memberikan instruksi.

"Ratih benar, Komandan Vex memantau secara langsung dari markas pusat. Kita harus bisa menangkap pemuda ini hidup atau mati." Kata Ockron yang sudah bersiap.

Sandrage segera berubah menjadi butiran pasir yang halus, tubuhnya menyebar ke seluruh area, bergerak cepat mengelilingi Lynx. "Kamu akan rasakan bagaimana rasanya jika aku yang mengunci gerakanmu!" serunya, suaranya hampir tak terdengar di tengah debu pasir yang berterbangan.  Debu-debu yang berputar tersebut kemudian merayap ke arah kaki Lynx dan mengeras, mengunci pergerakan kaki targetnya.

Kilat, dengan kecepatan luar biasa, berlari ke arah berlawanan dengan arah Lynx untuk mengambil jarak agar dapat memperkuat serangan seperti sebelumnya, namun kali ini dengan kekuatan dan kecepatan yang lebih besar. Setelah merasa cukup jauh, dengan kecepatan tinggi dia berbalik melesat menuju Lynx. "Kamu takkan bisa menghindar dari pukulanku kali ini.!" teriaknya, tangannya mengepal membentuk tinju besi baja yang siap menghantam wajah Lynx.

Ockron, dengan tentakel yang telah pulih, mengeluarkan tentakel-tentakelnya yang besar dan kuat, bersiap menunggu giliran untuk melilit tubuh Lynx. "Kali ini, kamu tidak akan bisa melepaskan diri lagi!" ucapnya seraya mengaktifkan kekuatannya, tubuhnya mulai mengeluarkan energi kelam.

Sementara itu, Ratih mengambil jarak lebih jauh, dan melepaskan tembakan dari senjatanya, peluru-peluru khusus dengan listrik tegangan tinggi meluncur ke arah Lynx sebagai salah satu strategi serangan gabungan mereka. "Ini untukmu!" teriaknya, mata menyipit menunggu dampaknya.

Dengan tembakan itu, setelah mengenai target sasaran, maka target akan mengalami kelumpuhan dan mengurangi kekuatannya sesaat. Dan target biasanya tidak akan bisa menghindari serangan tersebut karena Sandrage sudah mengunci kakinya, ditambah kemampuan khusus yang di miliki Ratih. Saat itulah, giliran Ockron akan melilit tubuh target untuk mengunci badannya, dan terakhir pukulan dari Kilat akan menjadi penutup serangan. Serangan gabungan ini biasa mereka gunakan ketika menangkap para metahuman kuat yang membuat masalah.

Namun, Lynx tetap diam tidak bereaksi dengan serangan tersebut. Matanya, yang tajam seperti elang, tidak menunjukkan emosi sedikitpun. Dengan sikap tenang, ia membiarkan serangan-serangan itu datang. Tanpa bergerak, ia mulai memancarkan energinya seperti jaring ke segala arah. Kepekaannya mencari satu hal, keberadaan Kanaya.

“Kanaya, di mana kau?” bisiknya, matanya juga bergerak cepat, dengan mata langit menilai setiap sudut di sekitar mereka.

Sesuai rencana, melihat target terkena tembakan Ratih dengan telak, tentakel Ockron bergerak melilit tubuh Lynx dengan kekuatan luar biasa, namun Lynx tetap diam tidak bereaksi, tidak terganggu.

Leena bukannya khawatir, justru duduk di salah satu tangga dan mengeluarkan minuman dari cincin penyimpanannya, menikmati tontonan yang jarang terlihat. Dia teringat kejadian di dunia kecil, bagaimana Lynx menghadapi ribuan binatang iblis dengan santai. Serangan para metahuman didepannya ini bukanlah masalah.

"Aku ingin melihat, apa yang akan kalian lakukan," kata Lynx, suaranya tenang namun penuh wibawa. Fokusnya tetap mencari keberadaan Kanaya. Satu gerakan dari Kanaya, maka Lynx akan menemukannya.

Kilat yang berlari dengan kecepatan tinggi, tiba di dekat Lynx dengan tubuh penuh percikan kilatan yang di hasilkan dari kecepatan larinya, dan dia segera mendaratkan pukulan di wajah Lynx dengan kekuatan penuh. "Pukulan ini akan menghabisi dan membuatmu merasakan pembalasanku berkali lipat!" teriak Kilat, dia yakin kali ini pukulannya akan tepat mengenai sasaran tanpa bisa menghindar seperti sebelumnya, karena tubuhnya sudah diikat oleh Ockron dan kakinya di tahan oleh Sandrage. Namun saat tinjunya tepat mengenai wajah Lynx, seketika itu juga, tangannya terasa patah. Suara tulang yang remuk terdengar jelas di udara, dan Kilat menjerit kesakitan. "Arrrrrgggghhh.... ?!" teriaknya kesakitan, wajahnya memucat.

"Apa yang terjadi, rasanya seperti memukul besi baja. Tidak, bahkan besi baja juga akan hancur terkena pukulanku." Batin Kilat yang masih merasakan kesakitan.

Tanpa menunggu lawan yang lainnya menyadari apa yang telah terjadi, dengan satu gerakan kecil, Lynx meraih dan merobek tentakel Ockron yang melilit di tubuhnya seperti merobek kertas, melepaskan dirinya dengan mudah. "Mainan seperti ini tidak akan bisa menahanku," tambahnya, tidak peduli dengan serangan lainnya.

Sandrage yang mengunci kaki Lynx dengan pasir tiba-tiba merasa  bergetar. "Apa…?!" serunya, namun terlambat. Kaki Lynx terangkat dengan mudah, melepaskan diri dari cengkraman Sandrage begitu saja.

Melihat hal itu, Ratih segera melancarkan lagi tembakan bertubi-tubi dengan senjata laser, namun sinar laser hanya menyentuh kulit Lynx, tanpa memberi efek apapun. "Kalian pikir hal ini cukup untuk menahanku?" tanya Lynx dengan nada mengejek, tatapannya tak pernah berpaling dari pencarian Kanaya.

Ockron dan Sandrage tidak mau menyerah begitu saja, mereka semakin berusaha erat memegangi Lynx agar tidak terlepas, namun upaya mereka terlihat sia-sia.

"Kalian hanya mengangguku. Aku tidak ingin menyakiti kalian, tetapi kalian sendiri yang mencari penyakit." Lynx berkata sambil mengayunkan tangannya, dan dengan mudah merobek kembali tentakel-tentakel yang terus bergerak mengikat tubuhnya. Tentakel tersebut putus dan hancur seperti tisue yang rapuh ketika Lynx meremasnya.

Kemudian, Lynx melapisi Sandrage dengan qi spiritual agar wujudnya menjadi padat tidak berhamburan, sehingga Sandrage yang masih berwujud pasir dan mengunci kaki Lynx menjadi tidak bisa bergerak, lalu Lynx menendang Sandrage yang masih berusaha menahan kakinya. "Meski jadi pasir bukan berarti aku tidak bisa menyentuhmu," ujarnya dengan santai, tubuh Sandrage terlempar jauh, menghantam bangunan.

Lynx tetap berdiri, tidak bergerak sedikitpun. Saat menyerang lawannya, dia sudah berusaha mengurangi sebanyak mungkin kekuatannya. Latihan yang di berikan kakek Mochi sangat berguna baginya.

Menggunakan mata langit, dia kembali mencari, menelusuri setiap gerakan, setiap getaran udara, berusaha menangkap keberadaan Kanaya. Namun, tidak ada jejak. Keheningan menambah ketegangan di udara. Lynx yakin Kanaya masih berada di tempat ini dan tidak akan bisa lepas dari mata langit ditambah pancaran energi spiritualnya.

Dengan satu helaan napas, Lynx kembali memfokuskan diri. "Kanaya… aku tahu kau ada di sini, aku tidak akan membiarkan kesempatan menangkapmu lepas begitu saja." katanya pelan, seolah berbicara pada angin yang tidak bisa dijangkau.

Awalnya Lynx berpikir membutuhkan waktu lama menemukan Kanaya, harus mencari dunia bawah yang tidak diketahui tempatnya. Dia juga berniat mencari Kael untuk membantunya menemukan Lala, namun target yang dicarinya justru datang sendiri.

Kanaya, yang mengamati pertempuran dengan cemas dari tempat tinggi, persembunyiannya, berkeringat dingin. Kejutan dan ketakutan melanda dirinya, tak menyangka bahwa kekuatan Lynx jauh melebihi yang dia bayangkan. Ketika di kota Zhurong, dia sudah merasakan perasaan tidak enak dan sudah memutuskan tidak akan pernah menghadapi pemuda ini secara langsung, namun justru di dunia ini pemuda tersebut muncul kembali.

Tanpa Kanaya sadari, keputusannya untuk langsung menghilang dan bersembunyi di salah satu bangunan tinggi melindunginya dari penglihatan mata langit Lynx yang mencarinya hanya di sekitar tempat tersebut. Lynx berpikir seharusnya Kanaya masih sembunyi di sekitar tempat pertempuran karena masih mengarahkan pasukannya, dan dia tidak merasakan ada pergerakan mencurigakan dalam radius beberapa kilometer.

Bahkan Komandan Vex, yang memantau melalui kamera pesawat, merasakan hal yang sama. Meskipun tidak terlihat, wajahnya tampak tegang, menilai situasi yang semakin tak terkendali.

Dengan perlahan, Kanaya memutuskan untuk mundur, berusaha menyelinap pergi dari lokasi pertempuran, berharap bisa menjauh tanpa terdeteksi. Namun, keputusannya kali ini salah, gerakannya yang sekecil apapun tidak bisa lolos dari persepsi Lynx.

